Mengenal Ciri-ciri dan Gambar Burung Jalak Suren

Jenis burung dari keluarga Sturnidae cenderung mempunyai perawakan yang lebih gagah daripada segi suara. Layaknya semua kerabatnya, Jalak Suren juga mempunyai beberapa bagaian tersebut. Ukuran tubuhnya melebihi burung pengicau pada umumnya, panjang tubuhnya rata-rata bisa sampai 20 hingga 24 cm. Hanya saja bagian tersebut, tentunya bukan menjadi alasan utama mengapa jenis ini begitu disukai. Bisa dibilang, suara ngeroll Jalak Suren juga dinilai jempolan dan terdengar keras. Selain itu, suaranya tersebut juga dikalim cocok untuk melatih mental dan memaster jenis burung penyanyi lain.

Popularitas burung Jalak Suren yang ada di Indonesia sendiri bisa dibilang paling mencolok jika dibandingkan dengan jenis Jalak lain. Meskipun harganya terbilang lebih mahal, namun saat ini banyak masyarakat lebih memilih unggas yang bernama latin (ilmiah) Sturnus contra tersebut daripada burung Beo ataupun Nias. Mungkin keistimewaannya sama, yakni seluruhnya bisa dilatih bicara. Hanya saja rata-rata penghobi berpendapat, bahwa jati diri suara Jalak Suren dikalim lebih bervariasi dan nyaring. Saking keras dan nyaringnya, suaranya tersebut bahkan sudah dianggap bisa difungsikan untuk menjaga rumah.

Mungkin karena alasan itu juga mengapa saat ini para penghobi lebih memilih memelihara Jalak Suren ketimbang jenis Jalak lainnya. Selain mempunyai bakat dapat meniru suara manusia, jenis jalak yang satu ini juga dianggap mempunyai bakat lain yang notabenya sudah cukup populer. Jenis ini diketahui bisa bersuara lebih keras saat merasa ada orang asing yang sedang mendekatinya. Tidak hanya dalam wujud suara saja, bahkan ekspresinya pada saat berkicau tersebut terlihat sangat marah dan agresif. Bisa dibilang, Jalak Suren hanya bisa patuh pada tuannya dan tidak begitu menyukai orang asing pada saat menghampirinya.

Jalak Suren sendiri sebenarnya terdapat dalam banyak sub-spesies (ras). Namun ras yang paling populer dan jumlah populasinya paling banyak di Indonesia sendiri ialah Jalak Suren Jawa (gracupica contra jalla) dan Kalimantan (Gracupica contra floweri). Kedua jenis ini praktis selalu menjadi jenis terfavorit, baik untuk dipelihara maupun untuk dibudidayakan. Meski keduanya diketahui mempunyai perbedaan secara fisik dan tempat habitat asli, namun untuk masalah kicauan terbilang sama. Begitupun dengan tingkat kecerdasaannya, keduanya juga diklaim bisa dilatih bicara layaknya semua jenis burung Jalak.

Tidak hanya itu, Jalak Suren juga bukan merupakan burung endemik asli Indonesia yang mana ia juga bisa ditemukan di seluruh negara-negara lain. Di Tanah Air sendiri, populasinya paling banyak terdapat di pulau Jawa, Kalimantan dan Bali. Pada saat di alam liar, jenis ini sering terlihat di berbagai daerah lembab seperti hutan mangrove, ladang bsah, perbukitan dan sebagainya. Pada saat memasuki musim berkembang biak, Jalak Suren Betina mampu melahirkan sedikitnya 4 – 6 butir telur setiap tahunnya. Sarangnya sendiri biasanya terletak pada lubang-lubang pohon besar yang menjulang tinggi.

Ciri-ciri Jalak Suren

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, untuk masalah ciri-ciri Jalak Suren cukup mudah dikenali dan diingat. Panjang tubuhnya saat menginjak usia dewasa, rata-rata bisa sampai 20 hingga 24 cm. Poin terpentingnya ialah bagaimana cara membedakan jantan dan betinannya. Untuk jantan bagian punggungnya dan lehernya bewarna hitam klimis. Selain itu, bagian anus terdapat warna biru gelap. Hanya saja warna biru anusnya tersebut disesuaikan oleh segi umur. Jika umurnya masih piyik atau anakan, biasanya warna birunya belum tumbuh.

Semenatara itu untuk si betina penampilannya bisa dibilang sangat berbeda dengan si jantan. Ukuran tubuhnya tidak setambun si jantan, melainkan cenderung kelihatan lebih bulat. Kepalanya juga tidak terlalu besar layaknya si jantan. Warna oranye pada tubuhnya praktis juga cukup berbeda. Warna oranye pada si betina lebih terlihat kusam. Begitupun untuk masalah mental dan suara. Bakat kicauan betina tidak terlalu bervariasi. Meskipun bisa juga mengeluarkan suara gacor dan ngeroll, si betina tidak bisa membusungkan dada dan memperlihatkan jambulnya layaknya si jantan.

Sangkar Jalak Suren

Sebenarnya tidak hanya burung Jalak Suren, berbagai jenis burung dari keluarga Sturnidae lain juga patut diperhatikan dalam soal pemilihan kandang. Dimana semua jenis burung Jalak mempunyai ukuran tubuh sedikit lebih besar daripada jenis burung penyanyi pada umumnya. Ukuran kandang yang cukup nyaman untuk jalak umumnya berbentuk persegi panjang yang ukurannya berkisar 100 x 175 x 200 cm. Bahan pembuatan kandang sendiri sebaiknya terbuat dari bahan-bahan yang kuat, entah itu berupa kayu ataupun kawat. Bagian yang terpenting ialah wadah air minum, pakan voer, EF, mandi dan tempat bertenggernya. Sedikitnya sediakan sebanyak 4 buah baskom dan tempat bertenggernya sebisa mungkin terbuat dari bahan kayu dengan permukaan yang tidak terlalu kasar.

Perawatan Harian Jalak Suren

Memang benar jika Jalak Suren mempunyai kicauan nyaring dan khas. Namun semua itu sangat sepadan dengan tingkat perawatan dan setelan harian yang terbilang tidak mudah. Dalam artian, Jalak Suren termasuk burung yang sedikit jorok sehingga untuk masalah kebersihan sebaiknya musti terus dilakukan. Tentunya kebersihan sendiri juga sangat menentukan kesehatan si burung. Jika semakin nyaman dan sehat, maka burung bisa rajin bunyi. Kebersihan sendiri sebenarnya juga terbagi menjadi beberapa aspek yang diantaranya kebersihan sangkar, pakan, air minum dan sebagainya.

Dimulai pada pemandian. Sebelum memandikan, sebisa mungkin biarkan ia terkena angin-angin dulu sekitar 15 hingga 20 menit. Setelah itu, setiap pemilik baru bisa memandikannya. Pemandian sendiri sifatnya tergantung kebiasaan, entah itu metode keramba ataupun semprot. Poin yang terpenting ialah berapa lama waktu penjemurannya. Jika semisal penjemuran pada saat pagi hari, sebaiknya cukup dijemur selama 2 hingga 3 jam. Misalnya pada pukul 07.00 – 10.00. Sembari menunggu badanya kering, setiap pemilik sebaiknya kembali mengecek pakan voer dan EF-nya. Agar lebih bugar dan rajin bunyi, Voer sendiri sebaik mempunyai kandungan protein yang tinggi seperti voer ayam ataupun voer lele yang bisa diberikan secara berkala.

Selain voer, tidak lupa Extra Fooding sebaiknya juga musti diperhatikan. Jika EF sendiri semisal berupa jangkrik, sebaiknya diberikan 5 ekor dalam sehari. 3 ekor pada waktu pagi dan 2 ekor pada waktu sore hari. Tidak hanya itu, untuk masalah pakan sebenarnya sangat beragam. Tidak hanya berupa voer dan EF, setiap pemilik sebaiknya juga memberikan pakan yang sifatnya sebagai pakan selingan seperti buah Apel, Pisang Kepok, Pepaya dan sebagainya.

Tinggalkan komentar